Misteri Al-Quran dari Daun Lontar
13 Agustus 2011 Tinggalkan Komentar
Al-Quran kuno dari daun lontar itu ditaruh di lemari kaca berpengaman empat gembok. Di sisi atas pintu almari terdapat tulisan “Al Qur’an Tiban”, Sejak awal Ramadan, lemari yang diletakkan di tempat ibadah semipermanen calon bangunan Masjid Nurussalam di Jalan Bogorami Makam Nomor 2, Kecamatan Bulak, Surabaya, itu ramai dikunjungi orang.
Terbungkus sajadah usang, Al-Quran tersebut memiliki ukuran panjang 40 sentimeter, tinggi 50 sentimeter, dan tebal 10 sentimeter. Kendati sudah terlihat lapuk, jahitannya masih kokoh. Untuk memegang dan membuka halaman demi halaman diperlukan kehati-hatian agar kitab suci itu tidak rusak.
“Kalau sajadahnya sendiri, biarpun dibakar tidak akan mempan,” kata Antok Suharyanto, salah seorang panitia pembangunan Masjid Nurussalam.
Antok mengaku mendapat Al-Quran itu dari seorang kiai asal Surabaya. Ceritanya, enam bulan lalu ia sowan ke kiai tersebut dan berkeluh-kesah soal rencana pembangunan masjid berukuran 9 x 17 meter yang tak kunjung dimulai. “Dana kami minim, padahal warga di sini sangat ingin segera punya masjid sendiri,” kata Antok.
Mendengar keluhan Antok, kiai tersebut tidak memberi solusi apa-apa. Dia hanya menyerahkan Al-Quran daun lontar itu kepada tamunya. “Mungkin kitab ini dapat mempercepat pembangunan masjid Anda,” kata dia menirukan ucapan sang kiai yang namanya disimpan oleh Antok.
Kiai itu mengisahkan bahwa Al-Quran tersebut diantar ke rumahnya oleh seseorang yang belum dikenalnya. Semula Pak Kiai menduga pengantar itu salah alamat karena dia merasa belum pernah mengenal orang tersebut. “Tapi pembawa Al-Quran itu bilang bahwa dirinya juga disuruh oleh seseorang yang memperkenalkan diri dengan nama hamba Allah agar memberikan Quran ke kiai saya,” ujar Antok.
Sejak menerima Al-Quran itu, tempat ibadah Antok ramai dikunjungi orang. Umumnya mereka penasaran dengan kitab yang diperkirakan telah berusia ratusan tahun itu. Beberapa di antara pengunjung memasukkan uang infak ke dalam kotak yang telah disediakan. “Mudah-mudahan ini membantu mempercepat pembangunan masjid kami yang diperkirakan butuh dana Rp 900 juta,” ujar Antok.
Antok tidak paham berapa usia Al-Quran itu sebenarnya. Dari seorang kolektor barang kuno yang datang ke tempat itu, Antok diberi tahu bahwa kitab tersebut kemungkinan berasal dari zaman Kerajaan Demak atau Majapahit akhir. “Saya malah ingin ada sejarawan yang meneliti keaslian kitab ini serta umurnya,” ucapnya.
Sebelum pembangunan masjid terwujud, untuk sementara Antok dan kawan-kawannya membuat tempat ibadah semipermanen di tempat. Dinding dan atapnya dari seng. Untuk membebaskan lahan itu sendiri, kata Antok, dibutuhkan proses panjang. “Sebab awalnya pemilik lahan enggan menjual. Tapi setelah kami bujuk terus akhirnya bersedia,” ujarnya lagi.



Komentar Mereka